Rabu, 01 April 2009

Rezeki Sekuntum Vinca

Yogyakarta - Tim Biologi UGM berhasil meraih prestasi dalam tiga ajang kompetisi sekaligus dengan mengusung judul penelitian yang sama yaitu "Potensi Ekstrak Etanolik Daun Tapak dara ( Catharanthus roseus (L.) D. Don) ‘BioVincristine’ Sebagai Alternatif Pengganti Kolkhisin dalam Poliploidisasi Tanaman".

Kepada wartawan, Ketua Tim Dwi Andi Listiawan, menuturkan munculnya ide pembuatan Biovincristine ini dilatarbelakangi adanya kenyataan bahwa dalam proses poliploidisasi (suatu bentuk mutasi eploid yang menyebabkan terjadinya pelipatan jumlah kromosom pada tanaman) yang menghasilkan tanaman-tanaman unggul dan bernilai ekonomis, selama ini dilakukan dengan menggunakan kolkhisin yang diimpor dari Jepang.

Kolihisin adalah hasil ekstraksi dari tumbuhan Colchicum autumnale L, yang hanya diperoleh dari daerah subtropis. Seperti diketahui Kolkhisin merupakan senyawa yang dapat menghentikan pembelahan sel, dan menjadikan ukuran sel semakin membesar. Penggunaan kolkhisin ini dalam poliplodisasi menajadikan tanaman yang dihasilkan berukuran lebih besar (bunga, buah maupun batang) dari tanaman normal.

Melihat kenyataan tersebut muncul pemikirannya untuk mencari alternatif pengganti kolkhisin yang bahannya bisa diperoleh dari sumber daya lokal di Indonesia. Setelah melalui penelusuran yang panjang ia mendapatkan informasi bahwa kolkhisin berfungsi sebagai senyawa antimitotik dalam depolimerisasi mikrotubulus. Dan diketahui bahwa vincristine merupakan senyawa antimitotik yang memiliki kesamaan fungsi seperti kolkhisin yang banyak terdapat pada tanaman Tapak Dara yang tumbuh liar di Indonesia dan juga belum dimanfaatkan secara optimal.

Pemanfaatan vincristine dalam tapak dara, imbuh Andi, selama ini baru dimanfaatkan sebagai obat anti kanker. "Melihat fenomena tersebut kami ingin memanfaatkan ekstrak daun tapak dara untuk poliplodisasi tanaman," terangnya di ruang fortakgama UGM, Selasa (31/3).

Seperti dituturkan oleh Andi tanaman tapak dara yang digunakan adalah tapak dara yang berbunga putih karena memiliki kandungan vincristine lebih tinggi dari tapak dara jenis lainnya. tanaman tersebut diperolehnya dari daerah pantai Bugel, kabupaten Kulon Progo.

Menurut mahasiswa angkatan 2004 ini dari 5,5 Kg (2 karung) daun tapak dara bisa diperoleh 600 gram serbuk ekstrak tapak dara. Dalam 1 kali pemakaian cukup menggunakan larutan dengan konsentrasi 0,1 % yang diperoleh dengan melarutkan 1 gram serbuk ekstrak tapak dara yang dicampur dengan 100 mili air. Jika dibandingkan dengan harga kolishin yang diimpor dari Jepang produk biovincristine ini jauh lebih murah harganya. "Untuk harga jual kolishin sebesar 1.250.000,-/100 gram, sementara produk biovincristine hanya bernilai 450 ribu/600 gram, " jelas peraih penghargaan mahasiswa berprestasi I Bidang Penelitian UGM tahun 2008 ini.

Dikatakan Andi proses poliplodisasi dilakukan dengan merendam bibit tanaman selama 18 jam ke dalam ekstrak tapak dara dengan konsentrasi 0,1%. Setelah melalui proses perendaman tersebut kemudian bibit dicuci dengan air kemudian bisa dilakukan penanaman. Bibit tersebut kemudian akan tumbuh dengan sifat yang lebih unggul seperti menghasilkan buah, bunga maupun batang yang lebih besar dari tanaman normal.

Awal penelitian digunakan bawang merah (Allium cepa L) sebagai model. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak tapak dara terbukti bisa menginduksi terjadinya poliplodisasi pada bawang merah dengan melihat pelipatan jumlah kromosomnya. Kromosom menjadi 2 kali lipat dibanding semula (4n) dan ukuran sel juga mengalami 2 kali pembesaran dari sel semula. Dari hal ini diasumsikan bahwa ukuran bawang merah menjadi dua kali lipat dari semula.

Pada dasarnya poliplodisasi bisa diterapkan ke semua jenis tanaman, namun baru diujicobakan ke beberapa tanaman, antara lain pada kenikir, melon dan krisan. Proses ini dilakukan dalam rangka menciptakan varietas tanaman yang dibudidayakan (kultivar) baru baik bunga potong, buah dan tanaman lokal Indonesia yang memenuhi standar. Pada tanaman krisan hasil perlakuan diketahui terjadi perubahan ukuran bunga dan diameter batang menjadi 2 kali lipat lebih besar. dan tingginya bertambah 1,5 kali lipat dari karakter fenotip tanaman normal. Adapun pengujian ini, tutur Andi, bekerjasama dengan petani krisan Kelompok Tani Udi Makmur di Hargobinangun, kecamatan Pakem, Sleman.

Penerapan dari poliplodisasi sendiri baru dikembangkan oleh petani maju. Sementara petani tradisional belum mengenal teknik ini dikarenakan bahan untuk melakukan poliplodisasi yaitu kolkhisin sangat mahal. "Dengan penemuan produk biovincristine diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor Indonesia. Selain itu juga bisa meningkatkan potensi pertanian lahan pasir, mengingat tapak dara merupakan tanaman yang berkembang dengan subur di wilayah pesisir," tukas mahasiwa asal Purwodadi ini.

Ia menambahkan, tanaman tapak dara yang awalnya dianggap kurang bernilai guna bisa dijadikan suatu komoditas. "Jika nilai guna dan nilai ekonomi tapak dara meningkat, otomatis permintaan akan tanaman tersebut juga naik. Dengan begitu lahan pasir yang dulunya kurang dimanfaatkan petani bisa digunakan secara insentif sebagai lahan pembudidayaan tanaman tapak dara," tegas penerima 7 dana hibah bersaing PKM tahun 2007, 2008 dan 2009 ini.

Disampaikan Andi, melalui produk biovincristine ini telah menghantarkan dirinya dan tim, Anggraeni Nur Septantri (2003), Umul Wahyuni Jamilah Darojat (2004), Anjar Tri Wibowo (2004), dan Estiani Indraningsih (2005) menjadi juara I Lomba Karya Hasil Penelitian Tingkat Nasional yang diselenggarakan UNAIR (2008) dan Juara II Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia oleh LIPI (2008) serta mendapatkan kesempatan publikasi di Jurnal Ilmiah Biologi terbitan LIPI Juni 2009 mendatang

2 komentar:

  1. Beli vincristine dimana yaa?
    Jika mengunakan serbuk daun tapak dara berapa grm per liter? Bukan extrak tapi gilingan daun tapak dara kering

    BalasHapus
  2. Beli vincristine dimana yaa?
    Jika mengunakan serbuk daun tapak dara berapa grm per liter? Bukan extrak tapi gilingan daun tapak dara kering

    BalasHapus