Saudaraku muslimim, wal muslimat, alhamdullillah, sejak saya mengikuti pengajian Al Quran, yang Di Bina oleh Ustadz Drs. Minardi Mursyid. Saya betul merasa bangga dan terharu, karena saya memperoleh pendalaman, pemahaman yang sangat akurat, logis, masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan. Al Quran adalah kitab yang paling dan sangat sempurna, lengkap dan mudah untuk di pahami, siapa bilang AlQuran itu wungkul sulit dipahami, itu mungkin dari kita yang belum belajar atau malas belajar memahaminya. Dalam Ayat Alquran banyak ayat yang menyatakan, “Apa kamu tidakberfikir ?”, itulah sebagai ajakan kita sebagai manusia untuk selalu belajar dan belajar untuk berTaqwa dan mengingat kebesaran ALLOH. Kita bangsa Indonesia, yang mayoritas Muslim sering dalam kelakaun sehari-harinya masih banyak yang kurang Islami, sebagai contoh kita masih jarang sebagai ahli dalam penelitian apapun !, lain dengan orang eropa, jepang , china yang mayoritas tidak Islam, tetapi kelakuan mereka sangat islami, sebagai contoh banyak dari mereka sering tadzabur alam sebagai peneliti, sehingga banyak karya - karya mereka yang fenomenal yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia. Maka dari itu kita sebagai bangsa yang mayoritas Islam hendaknya kita berlaku juga secara Islami, dengan mau belajar tentang ilmu-ilmu ALLOH dan mengimplemetasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan kita sebagai saudara muslim sedunia, hendaknya orang Islam bangkit untuk mulai bekerja keras dan belajar dengan sungguh- sungguh untuk mengejar ketertinggalan IPTEK. Karena Dalam Alquran, terdapat banyak ayat yang mengajak kita untuk menguasai IPTEK. ALLOH berfirman dalam ayat AlQuran, “Hai Manusia Kamu tidak Menjelajah Planet-Planet sampai Planet ke Tujuh tanpa kekuatan”. Kekuatan disini adalah dengan IPTEK. NASA mampu mencapai bulan , pesawat tanpa awak ke planet dekat dengan bumi , seperti Mars.
Dari contoh sedikit di atas , kita harus bangga dan kagum, Bahwa AlQuran adalah kitab yang mampu menjelaskan segala hal kehidupan dan Kitab yang sudah sangat sempurna, tidak ada kitab yang lain yang mampu menandinginya sampai akhir jaman, maka dari itu kita harus mempelajarinya, memahaminya, dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai Islam yang Kaffah, seutuhnya. Orang pandai belum tentu sadar, tetapi orang yang sadar pastilah pandai. bukalah hati kita, sadarkanlah diri kita, bukalah pikiran kita. Itulah yang membuat merinding bulu kuduk saya, dan menitikkan air mata saya, betapa bodoh dan banyak dosa serta segala sesuatu yang tidak saya ketahui, karena saya malas dan tidak berpengetahuan saya akan kehebatan AlQuran yang sesungguhnya. Pak Min saya berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada bapak atas bimbingannya.
Mungkin hanya sedikit sekali orang di Indonesia yang tidak mengenal atau belum pernah mengkonsumsi tempe, salah satu produk makanan tradisional yang khas rasa dan proses pembuatannya. Tempe telah dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang tua, di pedesaan hingga di meja restauran serta di berbagai etnis di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa tempe merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia meskipun ironisnya, konon hak paten dari beberapa item produk turunan tempe justru tidak dimiliki oleh Indonesia, melainkan Jepang. Tempe, seharusnya menjadi alternatif sumber protein yang harganya tidak lebih mahal dari sumber protein yang lain. Telah pula diketahui bahwa tempe mengandung protein nabati yang cukup tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, juga mengandung asam lemak esensial, mengandung antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan, mengandung isoflavon yang berfungsi sebagai anti kanker, vitamin B12 yang tinggi, kaya akan serat makanan, mengandung phospor yang berguna bagi untuk berbagai reaksi metabolisme tubuh serta mengandung antibiotik alami yang dapat menghambat munculnya berbagai penyakit. Artinya, tempe bernilai strategis karena mempunyai kontribusi terhadap asupan gizi masyarakat Indonesia yang tidak bisa diremehkan tetapi harganya relatif murah. Semakin terbatasnya lapangan kerja dewasa ini, ditambah lagi banyaknya karyawan yang mengalami PHK di berbagai perusahaan, menyebabkan banyak munculnya wirausahawan baru. Bidang yang dipilih biasanya yang tidak memerlukan modal besar serta teknologi yang tidak terlalu rumit. Salah satu bidang wirausaha yang banyak dipilih antara lain usaha home industri tempe. Mereka mendapatkan informasi proses pembuatan tempe, biasanya secara mandiri. Minimnya pengetahuan akan proses pembuatan tempe yang benar, turut memberikan andil pada semakin rendahnya kualitas tempe yang beredar, terutama di berbagai pasar tradisional. Kedelai, sebagai bahan bakutempe, selain mengandung zat gizi tetapi secara alami mengandung zat anti gizi antara lain Tripsin Inhibitor , Asam Fitat, saponin serta anti gizi yang lain. Tripsin inhibitor adalah senyawa yang menghambat aktivitas Tripsin. Padahal, Tripsin adalah enzim pencerna protein yang dihasilkan oleh pangkreas. Jika Tripsin terblokir oleh Tripsin inhibitor maka aktivitas Tripsin dalam mencerna protein menjadi terhambat, artinya protein yang terdapat dalam makanan menjadi tidak dapat dicerna oleh tubuh atau sia-sia terbuang. Sedangkan Asam Fitat akan mengikat mineral seng, besi dan kalsium dalam makanan dan berdampak pada ketidakketersediaan mineral tersebut pada makanan. Saponin banyak terdapat pada kulit kedelai yang menyebabkan rasa pahit. Sebenarnya, senyawa-senyawa anti gizi tersebut di atas dapat dinetralisir/inaktivasi dengan pemanasan yang sempurna. Selain kedelai, komponen produksi tempe yang lain adalah bahan bakar (minyak tanah/kayu), air (PDAM), listrik. Permasalahannya adalah komponen produksi tersebut di atas sudah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, sedangkan harga jual tempe khususnya di berbagai pasar tradisional di Surabaya relatif tidak berubah atau sulit di naikkan. Kedelai yang digunakan pada umumnya adalah kedelai import (Amerika) yang harganya berfluktuatif ,tergantung dari nilai tukar dollar terhadap rupiah. Sekarang ini sekitar Rp. 7.000-an/Kg. Akibatnya banyak pengusaha/pengrajin tempe (terutama yang pemula) yang berimprovisasi pada tahapan proses pembuatan untuk menekan biaya produksi. Yang penting bagi para pengrajin, “pokoknya” tempe jadi. Tetapi mungkin karena ketidaktahuan mereka, justru improvisasi yang mereka lakukan akan menghasilkan produk tempe yang berkualitas rendah dan bahkan bisa jadi bersifat anti gizi. Improvisasi yang dilakukan para pengrajin, terutama pengrajin baru antara lain dalam hal pemanasan. Untuk menghemat jumlah pemakaian bahan bakar, mereka hanya melakukan satu kali pemanasan dari normal dua kali pemanasan serta waktu pemanasan diperpendek. Biasanya mereka merendam kedelai dahulu, kemudian dipisahkan kulitnya baru direbus. Memang kedelai yang direndam akan menyerap air dan lebih cepat empuk kalau direbus. Tetapi, mungkin tanpa mereka sadari bahwa percepatan waktu pemanasan dan pengurangan frekwensi pemanasan akan menyebabkan tidak sempurnanya proses inaktivasi senyawa anti gizi alami pada kedelai. Tripsin inhibitor serta asam fitat masih berada dalam bentuk aktif. Hal ini akan menyebabkan keberadaan protein dan mineral yang masuk ke dalam tubuh dari sumber makanan yang lain menjadi muspro. Dan ini akan semakin memperparah kondisi kurang gizi dari masyarakat kebanyakan . Improvisasi yang lain misalnya untuk menghemat waktu proses dari 4 hari menjadi 3 hari, mereka menghilangkan tahapan proses perendaman. Padahal tahap ini adalah tahap yang sangat penting, karena justru pada tahap inilah rasa gurih dan aroma khas tempe muncul. Tetapi yang paling penting adalah, pada tahap ini terjadi kontaminasi mikroorganisme yang justru menguntungkan. Mikroorganisme tersebut adalah dari golongan Klebsiella sp yang akan memproduksi vitamin B12 alami. Ini salah satu keunggulan tempe yaitu suatu produk makanan yang tinggi protein sekaligus tinggi kandungan vitamin B12-nya. Maka, jika tahap ini dihilangkan, memang tempe yang dibuat masih bisa jadi tetapi dihasilkan tempe yang umurnya pendek dan tidak mengandung vitamin B12. Yang paling banyak dilakukan adalah mengurangi jumlah pemakaian bahan baku kedelai, tetapi supaya volume tempe yang dihasilkan masih kelihatan besar, mereka memasukkan lagi kulit kedelai(ampas) dan atau menir jagung (burse), parutan ketela pohon, karak, potongan pepaya dan sebagainya ke dalam kedelai masak yang siap diberi ragi. Hal ini akan menyebabkan struktur porous/berpori dari tempe dan berdampak pada tekstur tempe yang lunak. Tempe yang bertekstur lunak/berkualitas rendah bisa mudah dikenali, karena biasanya akan banyak menyerap minyak pada saat digoreng. Tetapi yang paling penting, pada volume tetap maka pemakaian bahan baku kedelai menjadi semakin sedikit yang berdampak pada semakin rendahnya jumlah protein pada tempe yang dikonsumsi masyarakat. Hasil analisa protein tempe dilaboratorium ternyata tempe yang beredar di pasar tradisional mempunyai kandungan protein kurang lebih 30% lebih rendah di bandingkan produk tempe yang melalui proses normal, misalnya tempe yang dipasarkan di supermarket. Banyaknya campuran non kedelai pada tempe juga rawan terhadap kemungkinan terjadinya kontaminasi yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan. Mengamati fenomena di atas, siapa yang patut dipersalahkan ?. Sebab pengrajin tempe pun tidak mendapat tambahan keuntungan dengan melakukan improvisasi tersebut, karena di satu sisi mereka hanya menjaga keseimbangan produksi akibat naiknya harga semua komponen produksi, terutama yang sangat terasa adalah harga kedelai, sedangkan di sisi yang lain harga jual tempe kedelai di pasar tradisional sulit dinaikkan karena karakter konsumen tempe memang demikian. Menaikkan harga Rp. 100 saja bisa sangat berdampak pada omset. Jadi dalam hal ini para pengrajin tempe berada pada kondisi yang teramat sulit. Pernah saya memberikan training pembuatan tempe yang higienis di kabupaten Nganjuk beberapa hari yang lalu, rata-rata para pengrajin tempe di sana menjerit tentang naiknya harga kedelai yang terjadi setiap hari. Memang, sekarang ini harga kedelai mengalami penurunan, seiiring dengan menurunnya harga minyak dunia, tetapi masih jauh di atas harga setahun yang lalu (sekitar Rp. 3.200/kg). Sekarang harga kedelai kualitas terbaik (cap Pelangi mencapai sekitar Rp. 7.800/kg). Mereka menyampaikan keluhan tentang banyak beralihnya konsumen tempe ke pindang, telur atau bahkan daging pada saat mereka mencoba menaikkan harga tempe. Ini pilihan yang teramat sulit, menaikkan harga tempe berdampak pada semakin banyaknya jumlah tempe yang tidak terjual/tidak laku sedangkan jika harga tidak dinaikkan, jelas akan rugi. Menghentikan produksi juga bukan pilihan, mengingat industri tempe ini telah dilakukan secara turun temurun dan mengakar. Sehingga mungkin bisa dipahami kesan menyerahnya para pengrajin tempe yang diekspresikan dalam bentuk demontrasi karena dipicu oleh prosentasi kenaikan harga kedelai yang sangat tidak lazim. Sebenarnya hal ini juga berdampak negatif bagi konsumen tempe, tetapi masalahnya adalah konsumen tidak menyadari, kalau sebenarnya mereka sangat dirugikan, karena tidak mengalami dampak langsung setelah mengkonsumsi tempe berkualitas rendah, seperti keracunan makanan misalnya. Yang penting bagi mereka adalah harganya murah. Konsumen mungkin tidak mengetahui/menyadari bahwa tempe yang mereka konsumsi telah mengalami degradasi kandungan protein serta kandungan vitamin B12. Juga justru tempe yang mereka konsumsi bisa jadi berpotensi dapat menyebabkan hilangnya protein dan mineral dari sumber makanan lain yang dikonsumsi. Sederhananya begini dengan mengkonsumsi tempe, kita bisa tidak mendapat tambahan protein dan mineral tetapi malah kehilangan zat gizi tersebut dari sumber makanan yang lain. Jadi, kenaikan harga bahan baku kedelai sangat berdampak pada kestabilan ekonomi dan kestabilan proses pembuatan yang dilakukan oleh para pengrajin tempe. Sedangkan dampak secara tidak langsung bagi konsumen adalah semakin rendahnya kualitas tempe yang dihasilkan, yang diikuti dengan semakin rendahnya kualitas dan kuantitas zat gizi yang diasup. Mengingat nilai ekonomis, budaya dan gizi tempe yang cukup strategis, maka permasalahan harga bahan baku kedelai yang semakin tidak terjangkau, akan menjadi permasalahan jangka panjang yang cukup serius dan harus segera diatasi, karana banyaknya personal yang terlibat dalam industri ini. Beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan adalah pertama, dalam jangka pendek instansi terkait harus dapat menghentikan laju kenaikan harga kedelai saat ini. Juga harus ada subsidi untuk harga kedelai, paling tidak untuk sementara ini. Koperasi Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) mungkin dapat lebih dioptimalkan perannya tidak sebatas pada hanya sebagai penyalur kedelai saja, tetapi juga sebagai pembina proses dan inovasi produk olahan tempe misalnya. Selain itu dalam jangka panjang perlu dilakukan pembinaan kepada para pengrajin tempe mengenai standarisasi proses pembuatan yang normal sehingga dihasilkan produk yang berkualitas standart. Pembinaan ini harus selalu terpogram rapi, terus menerus dan berkelanjutan. Mungkin hal ini bisa dilakukan oleh dinas terkait, misalnya Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan atau melibatkan kalangan akademisi. . Lokalisasi kawasan proses nampaknya perlu juga dilakukan, untuk memudahkan pengawasan , pembinaan dan penanganan limbahnya. Subsidi kedelai sebesar Rp. 1.000 /kg juga belum jalan di Surabaya, Sidoarjo dan mungkin sebagian besar kota di Jawa Timur dengan permasalahan yang belum diketahui. Memang, subsidi sebesar itu cukup membantu tetapi tidak banyak berarti.
Deskripsi Hijauan dari sisa pertanian seperti jerami, jagung dan lain-lain oleh petani hanya diambil sebagai bahan pakan ternak pada saat sisa hasil pertanian ini hanya ditumpuk dan dibiarkan kering. Dengan kondisi limbah atau sisa hasil pertanian yang kering, petani tidak memanfaatkannya untuk pakan ternak. Hal ini disebabkan hewan ternak tidak mau memakan sisa atau limbah pertanian yang sudah kering tersebut. Untuk mengatasi kendala-kendala penyediaan bahan pakan ternak pada musim kemarau maka kami menciptakan suatu produk teknologi yang membantu mengatasi penyediaan bahan pakan untuk ternak pada musim kemarau. Superfarm Cattle merupakan suatu produk teknologi mikrobia yang berguna untuk membantu menaikan kadar protein bahan pakan, meningkatkan berat badan ternak, mengurangi bau kotoran ternak, dan membantu menfermentasi bahan pakan agar merangsang nafsu makan ternak.
Bahan a. Jerami kering/daun jagung kering 1.000 kg b. SF-Cattle 4 ltr c. Molasses 4 ltr d. Dedak 30 kg e. Plastik f. Goni
Alat a. Gembor air b. Ember/drum c. Parang
Cara Pembuatan
a. Susun jerami kering dengan ketebalan 20-30 cm
b. Siram dengan SF-Cattle secara merata sampai dengan kadar air 60%
c. Tebarkan dedak tipis secara merata dipermukaan jerami
d. Tumpuk lagi diatasnya dengan jerami kering dan siram lagi dengan SF-Cattle
e. Taburi dedak tipis dipermukaannya
f. Lakukan hal yang sama sampai ketinggian yang dikehendaki
g. Setelah sampai ketinggian yang dikehendaki di sekeliling jerami ditutup plastik secara rapat.
Yogyakarta - Tim Biologi UGM berhasil meraih prestasi dalam tiga ajang kompetisi sekaligus dengan mengusung judul penelitian yang sama yaitu "Potensi Ekstrak Etanolik Daun Tapak dara ( Catharanthus roseus (L.) D. Don) ‘BioVincristine’ Sebagai Alternatif Pengganti Kolkhisin dalam Poliploidisasi Tanaman".
Kepada wartawan, Ketua Tim Dwi Andi Listiawan, menuturkan munculnya ide pembuatan Biovincristine ini dilatarbelakangi adanya kenyataan bahwa dalam proses poliploidisasi (suatu bentuk mutasi eploid yang menyebabkan terjadinya pelipatan jumlah kromosom pada tanaman) yang menghasilkan tanaman-tanaman unggul dan bernilai ekonomis, selama ini dilakukan dengan menggunakan kolkhisin yang diimpor dari Jepang.
Kolihisin adalah hasil ekstraksi dari tumbuhan Colchicum autumnale L, yang hanya diperoleh dari daerah subtropis. Seperti diketahui Kolkhisin merupakan senyawa yang dapat menghentikan pembelahan sel, dan menjadikan ukuran sel semakin membesar. Penggunaan kolkhisin ini dalam poliplodisasi menajadikan tanaman yang dihasilkan berukuran lebih besar (bunga, buah maupun batang) dari tanaman normal.
Melihat kenyataan tersebut muncul pemikirannya untuk mencari alternatif pengganti kolkhisin yang bahannya bisa diperoleh dari sumber daya lokal di Indonesia. Setelah melalui penelusuran yang panjang ia mendapatkan informasi bahwa kolkhisin berfungsi sebagai senyawa antimitotik dalam depolimerisasi mikrotubulus. Dan diketahui bahwa vincristine merupakan senyawa antimitotik yang memiliki kesamaan fungsi seperti kolkhisin yang banyak terdapat pada tanaman Tapak Dara yang tumbuh liar di Indonesia dan juga belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan vincristine dalam tapak dara, imbuh Andi, selama ini baru dimanfaatkan sebagai obat anti kanker. "Melihat fenomena tersebut kami ingin memanfaatkan ekstrak daun tapak dara untuk poliplodisasi tanaman," terangnya di ruang fortakgama UGM, Selasa (31/3).
Seperti dituturkan oleh Andi tanaman tapak dara yang digunakan adalah tapak dara yang berbunga putih karena memiliki kandungan vincristine lebih tinggi dari tapak dara jenis lainnya. tanaman tersebut diperolehnya dari daerah pantai Bugel, kabupaten Kulon Progo.
Menurut mahasiswa angkatan 2004 ini dari 5,5 Kg (2 karung) daun tapak dara bisa diperoleh 600 gram serbuk ekstrak tapak dara. Dalam 1 kali pemakaian cukup menggunakan larutan dengan konsentrasi 0,1 % yang diperoleh dengan melarutkan 1 gram serbuk ekstrak tapak dara yang dicampur dengan 100 mili air. Jika dibandingkan dengan harga kolishin yang diimpor dari Jepang produk biovincristine ini jauh lebih murah harganya. "Untuk harga jual kolishin sebesar 1.250.000,-/100 gram, sementara produk biovincristine hanya bernilai 450 ribu/600 gram, " jelas peraih penghargaan mahasiswa berprestasi I Bidang Penelitian UGM tahun 2008 ini.
Dikatakan Andi proses poliplodisasi dilakukan dengan merendam bibit tanaman selama 18 jam ke dalam ekstrak tapak dara dengan konsentrasi 0,1%. Setelah melalui proses perendaman tersebut kemudian bibit dicuci dengan air kemudian bisa dilakukan penanaman. Bibit tersebut kemudian akan tumbuh dengan sifat yang lebih unggul seperti menghasilkan buah, bunga maupun batang yang lebih besar dari tanaman normal.
Awal penelitian digunakan bawang merah (Allium cepa L) sebagai model. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak tapak dara terbukti bisa menginduksi terjadinya poliplodisasi pada bawang merah dengan melihat pelipatan jumlah kromosomnya. Kromosom menjadi 2 kali lipat dibanding semula (4n) dan ukuran sel juga mengalami 2 kali pembesaran dari sel semula. Dari hal ini diasumsikan bahwa ukuran bawang merah menjadi dua kali lipat dari semula.
Pada dasarnya poliplodisasi bisa diterapkan ke semua jenis tanaman, namun baru diujicobakan ke beberapa tanaman, antara lain pada kenikir, melon dan krisan. Proses ini dilakukan dalam rangka menciptakan varietas tanaman yang dibudidayakan (kultivar) baru baik bunga potong, buah dan tanaman lokal Indonesia yang memenuhi standar. Pada tanaman krisan hasil perlakuan diketahui terjadi perubahan ukuran bunga dan diameter batang menjadi 2 kali lipat lebih besar. dan tingginya bertambah 1,5 kali lipat dari karakter fenotip tanaman normal. Adapun pengujian ini, tutur Andi, bekerjasama dengan petani krisan Kelompok Tani Udi Makmur di Hargobinangun, kecamatan Pakem, Sleman.
Penerapan dari poliplodisasi sendiri baru dikembangkan oleh petani maju. Sementara petani tradisional belum mengenal teknik ini dikarenakan bahan untuk melakukan poliplodisasi yaitu kolkhisin sangat mahal. "Dengan penemuan produk biovincristine diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor Indonesia. Selain itu juga bisa meningkatkan potensi pertanian lahan pasir, mengingat tapak dara merupakan tanaman yang berkembang dengan subur di wilayah pesisir," tukas mahasiwa asal Purwodadi ini.
Ia menambahkan, tanaman tapak dara yang awalnya dianggap kurang bernilai guna bisa dijadikan suatu komoditas. "Jika nilai guna dan nilai ekonomi tapak dara meningkat, otomatis permintaan akan tanaman tersebut juga naik. Dengan begitu lahan pasir yang dulunya kurang dimanfaatkan petani bisa digunakan secara insentif sebagai lahan pembudidayaan tanaman tapak dara," tegas penerima 7 dana hibah bersaing PKM tahun 2007, 2008 dan 2009 ini.
Disampaikan Andi, melalui produk biovincristine ini telah menghantarkan dirinya dan tim, Anggraeni Nur Septantri (2003), Umul Wahyuni Jamilah Darojat (2004), Anjar Tri Wibowo (2004), dan Estiani Indraningsih (2005) menjadi juara I Lomba Karya Hasil Penelitian Tingkat Nasional yang diselenggarakan UNAIR (2008) dan Juara II Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia oleh LIPI (2008) serta mendapatkan kesempatan publikasi di Jurnal Ilmiah Biologi terbitan LIPI Juni 2009 mendatang